Showing posts with label CINTA ALLAH. Show all posts
Showing posts with label CINTA ALLAH. Show all posts
Tuesday, 23 August 2016
August 23, 2016
LAMPIRAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KINERJA KARYAWAN
August 23, 2016
BAB I BUDAYA ORGANISASI DENGAN KINERJA KARYAWAN
August 23, 2016
BAB II BUDAYA ORGANISASI DENGAN KINERJA KARYAWAN
August 23, 2016
COVER HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DENGAN KINERJA KARYAWAN
August 23, 2016
BAB III BUDAYA ORGANISASI DENGAN KINERJA KARYAWAN
August 23, 2016
BAB IV BUDAYA ORGANISASI DENGAN KINERJA KARYAWAN
August 23, 2016
BAB V BUDAYA ORGANISASI DAN KINERJA KARYAWAN
August 23, 2016
HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR DAN KURSUS KOMPUTER SMILE GROUP YOGYAKARTA
Monday, 11 April 2016
April 11, 2016
KIsah orang tua Prajurit TNI
Tabaarakalladzii biyadihi mulku, wa huwa ‘ala kulli syai’inqadiir.” Maha Suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al Mulk : 1)
Dia lah Allah, dzat Yang Maha Kuasa, menciptakan semesta dengan segala keteraturannya. Tak ada satu pun dari setitik debu yang diciptakan-Nya dalam keadaan tak seimbang. Berputarlah, bumi, bulan, dan matahari sesuai perhitungan-Nya, tak pernah lebih cepat, pun tak pernah lebih lambat, semua tunduk akan kuasaNya.
Direndahkannya hamparan bumi dan ditnggikannya hamparan langit, hingga manusia dan makhluk lainnya tak bersesak-sesak hidup di bumi.
Diciptakannya siang sebagai ladang merengkuh berkah disetiap laku, tindak dan ucap makhluk-Nya, dan diciptakan malam sebagai serambi tuk bernaung, merintih sesal, bersedu merdu, bermunajat haru memohon ampun atas laku dan ucap yang tak sesuai arahan Sang Khaliq.
Diciptakanlah ibu sebagai madrasah penuh kasih, penuh kelembutan, penuh perasaan, penuh kehangatan dan cinta untuk anak-anaknya. Ada kasih di setiap tuturnya, ada cinta disetiap belainya, ada kehangatan disetiap senyumnya.
Dan diciptakanlah bapak sebagai madrasah keteladanan, ketegasan, wibawa dan kebijaksanaan untuk anak-anaknya. Walaupun kadang seorang bapak tak sepandai ibu dalam menunjukkan kasih dan sayangnya, terkadang dingin, dan sibuk dengan pekerjaannya, namun kamu harus tau? bahwa di balik itu ada kebanggaan yang amat luar biasa besar yang tak kamu tahu dari seorang bapak untuk anak-anaknya.
Dini hari, di stasiun kereta selepas perjalanan djogja - Surabaya Gubeng. Muka loyo karena tak bisa tidur sepanjang perjalanan.
“Mas taksi mas?” Seorang bapak-bapak supir taksi, sekitar usia lima puluhan, berbadan agak tambun, mengenakan seragam taksi ditambah topi berlogo marinir menawariku taksi. Aku hanya mengangguk dan mengikuti pak supir. Rencananya aku mau tidur di perjalanan Stasiun menuju Armatim. Ngantuk berat.
Di mobil.
“Griya nipun ngendi mas e?” Pak supir mencoba memecah keheningan dini hari.
“Kulo saking djogja pak, manawi kulo boten sae nganggo boso jowo, ngapunten nggih.” Sambil bingung bapaknya nanya apa, dan jawab sekenanya.
Bapaknya ketawa mendengar logat jawa yang aneh dan mungkin gak bener juga.
“Owalaah mas e wong jowo juga to.” Singkat ceritanya pak supir ini ngajari sedikit-sedikit bahasa jawa halus.
Ngobrol ngaler ngidul tentang TNI AL, mulai dari pendidikan hingga sekolah lanjutan,
Sampai pada sebuah obrolan.
“Jadi perwira enak ya ketok e, cari pendamping gampang hehe.”
“Amiiin pak.”
“Anakku gak beruntung e mas, yang nomor 2 sekarang masih cari kerjaan, belum dapet sampe sekarang, dia baru lulus kemaren ini , udah daftar berkali2 belum masuk juga, ngambil Matra AL jg.”
“Bukan gak beruntung pak, mungkin Allah lagi ngasih yang paling baik untuk anak bapak, insyaAllah dapat yang terbaik.” jawabku sekenanya senyum ramah.
“Iya mas mudah-mudahan ya, tapi ya memang anak saya yg nomor 1 ini kebanggaan saya mas, dia bisa masuk Taruna saja saya bersyukur, ketambah lagi semangatnya sekolah lanjutan di amerika perintah KasaL, yoo belajarnya rajin, lulusnya nya kemaren Alhamdulillah 10 besar. Melihat anak saya jauh lebih baik dari saya, saya sangat bangga mas, dan saya berharap kehidupan dia jauh lebih baik.”
Aku terpaku mendengarkan cerita pak Supir..subhanallah.
“Walau yaa saya ini sudah mentok hidup jadi seorang supir, tapi saya gak menyesalinya selama saya melihat anak saya lebih baik dari saya mas. Ini topi yang saya pake ini punya anak saya waktu pendidikan dulu, dikasihkan ke saya, katanya buat nemenin bapak kalo kepanasan pas kerja. Saya bangganya bukan main melihat anak saya yang dulu cuma bisa nangis pas bayi, dan sekarang sudah sedewasa itu. calon mimpin negoro mas” Wajah pak supir sangat sumringah sambil memegang topi yang ia kenakan.
Aku manggut-manggut terpesona melihat ekspresi seorang bapak yang sedang bangga menceritakan anaknya.
“Tapi kadang anak saya ini suka minder, serba takut dan khawatir, mungkin yo karena kasian melihat bapaknya kerja cape banting tulang untuk dia sekolah dulu. Tapi saya bilang gini ke anak saya Kamu jangan takut nak, sekolaho sing duwur, percaya dirilah, biarkan keringat bapak di topimu ini jadi saksi perjalanan kesuksesanmu kelak, InsyaAllah ada jalan.” dan alhamdulilah to lee.
Aku masih terpaku mendengar cerita pak supir satu ini.
“Jadi gitu mas, yang namanya seorang bapak, gak akan menyesali rasa capeknya bekerja, walau secapek apapun itu, sudah jauh terbayar ketika anaknya tumbuh dewasa, menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari bapaknya. Capek, dan materi yang dikeluarkan, gak sebanding dengan rasa bangga bapak ke anaknya.”
“Nggih pak.” aku udah gak bisa komen apa-apa lagi, selain terpaku. senyum dan subhanallah
“Sekolah lagi yang tinggi mas, kalo perlu ambil peluang yang ada, ambilah, ben tambah manfaat.” ngibadah lan nyenengno wong tuwamu
“InsyaAllah pak.”
Sampailah taksi di tujuannya, aku bayar dan turun, berjalan menuju Armatim dengan membawa sebuah perasaan yang entah bagaimana mendeskripsikannya.
Di balik ketegasan, kebijaksanaan, harga diri tinggi dan wibawa seorang bapak, ada sebuah kehangatan yang luar biasa yang bisa melelehkan hati anaknya jika mereka tahu, dan aku baru memahaminya hari itu
Sesungguhnya manusia tidaklah berkuasa atas
berubahnya seseorang. Setiap manusia yang berubah menjadi lebih baik
adalah kehendak-Nya. Katakanlah “ALLAH lah yang menjadikannya lebih baik
dari sebelumnya
Ryant al fatih
Friday, 8 April 2016
April 08, 2016
MENJAGA KESEHATAN
"Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim dari Abu hurairah).
Semua orang pada umunya kepengin sehat terus. Mereka tidak ingin sakit meskipun hanya sakit ringan misalnya. Karena sakit dianggap sesuatu yang menyedihkan dan penderitaan tersendiri.
Orang yang sehat insya Allah dapat melakukan banyak aktivitas. Sehat dalam hal ini adalah sehat dalam segala aspek baik fisik, menat, sosial, maupun aqidah. Mereka yang sehat adalah orang yang kuat. Untuk itu perlu dipahami prinsip utama dalam kesehatan. Yakni segala upaya secara teratur dan optimal agar seseorang menjadi kuat.
Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa islam sangat memperhatikan kesehatan fisik, jiwa, akal, soaial dan aqidah. Penjagaan kesehatan jasmani memang bermacam-macam cara. Oleh karena itu menjaga kesehatan disaat sehat akan lebih baik daripada berobat ketika telah sakit. Pepatah Arab mengatakan alman'u ashalu min arraf;i (mencegah itu lebih mudah daripada menghilangkannya).
Sehat rohani dan jasmani bagi seseorang merupakan dambaan dan kebahagiaan tersendiri bagi seseorang dalam hidup di dunia dan di akherat nanti. Rasulullah SAW selalu berdoa pagi dan sore untuk diberikan kesehatan. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh \Abdullah bin umar r.a.. iaberkata bahwa asulullah SAW selalu berdoa pagi dan sore " Allahumma inni as alukal'afwa wal 'afiah fiddunay wal akhirah. Allahumma inni as alukal 'afwa wal 'afiyah fi dini wadunyaa wa ahli wa mali (HR. Ahmad , Abu Daud , dan Ibnu Majah). Artinya; hadist diriwayatkan dari Abdullah ibn 'Umar , ia berkata bahwa rasulullahSAW senantiasa bredoa pagi dan sore, ya Allah aku mohon kepada Mu ampunan dan kesehatan di dunia dan akherat namti. ya Allah aku memohon kepadaMu ampunan dan kesehatan agamaku, dunisku, kelusrgsku, dan hartaku (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu majah).
Berkaitan dengan penjagaan kesehatan ini, rasulullah SAW menegaskan bahwa pada dasarnya obat itu ada dua sebagai disabdakannya, " Berobatlah kamu sekalian dengan 2 (dua) macam penyembuhan yakni madu dan Al Quran". (HR. ibn majah).
Dalam mengulas hadist ini, Ibn al-Qayyim menyatakan bahwa hadist ini menjelaskan keterpaduan antara teknik kedokteran dan manusia dan kedokteran Ilahi, jasmanidan rohani, bumi dan langit. Sedangkan menurut Abul Fadl mohsin ibrahim menyatakan bahwa berdasarkan hadist di atas umat Islam berkewajiban untuk menjaga kesehatan fisik dan kesehatan jiwa.
Nabi Muhammad SAW adalah sosok oragn yang patutu menjadi contoh dalam menjaga kesehatan. Dari beberapa sumberdapat dirumuskan tentagn cara-cara nabi Muhammad saw dalam menjaga kesehatan antara lain dengan menjaga pola makan, minum, menjalankan puasa, menjaga keseimbangan minum, minum madu, menggunakan air bersih, minum air susu murni, makan buah kurma, pengobatan dan olahraga.
Menjaga Pola Makan Minum
Sebagaimana dipahami bahwa makanan dan minuman merupakan unsur penting untuk menjaga kesehatan. Kemudian makanan dan minuman dalam Islam disyaratkan makanan dan minuman yang halalan dan thayyiban. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al Quran: "Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi." (QS> Al baqarah :168). pengertian makanan minuma dalam hal ini jarus dilihat dari 4 aspek. Empat aspek ini meliptui aspek zat, sifat, car memperoleh, dan akibat yang dapat ditimbulakannya apabila mengkonsumsinya.
Kemudian pengertian thayyiban berarti makanan yang baik dan bergizi. makana inipun juga harus dilihat dari segi kebersihan, rasa, dan cara penyajiannya, cara memperoleh dan cara mengkonsumsinya. islam menjaga kebersihan makanan dan minuman antara lain dari segi cara memperolehnya itu dengan cara tidak halal seperti mencuri, merampok, korupsi, memalsu cap 8 tanda tangan, dan lainnya. Maka cara ini tidak dibenarkan oleh agama islam.
Demikian pula keharaman makanan dan minuman dapat dilihat dari segi jenisnya seperti babi, anjing, bangkai, darah, minuman keras, dan lainnya. Dalam hal ini rasulullah SAW bersabda, " Setiap tubuh yang tum,buh dari makanan/minuman yang hram, maka neraka lebih layak baginya." (HR. al- turmudzi). oleh karena itu dalam menkgonsumsi makanan dan minuman harus berhati-hati, sesuai kebutuhan, dan tidak berlebihan. Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan dalam FrimanNya: "makanlah dan minumlah kamu sekalian dan jangan berlebihan, sesungguhnya Allah swt itu tidak menyukai orang-orang yang berlebihan". (QS> AL-A'raf : 31).
Dari ayat tersebut dapat di[ahami bahwa pengaturan pola hidup sederhana merupakan langka tengah-tengah. Artinya tidak berlebihan dan todak terlalu kenyang sehingga di dalam perut itu ada rongga sepertiga untuk makanan, sepertiga rongga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Hakim, dan Ibnu Hibban).
Menjalankan Puasa
Puasa wajib maupun sunnah kecuali memiliki nilai ibadah, juga memiliki makna sosial, pendidikan, kultural, dan kesehatan. Dalam berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa puasa dapat menyehatkan badan terutama pada pencernaan dan kegemukan.
Orang yang berpuasa berarti:
a. Memberikan kesempatan pada organ pencernaan untuk istirahat sementara
b. Mengendalikan emosi
c. Menuju keseimbanga makan dan minum
d. Meremajakan sel-sel tubuh yang mulai menua.
e. Menghindarkan dari kegemukan.\f. menyehatkan lambung.
g. Berpengaruh positif terhadap rohani.
hadist nabi Muhammad SAW: "Berpuasalah kamu sekalian agar sehat." (HR. al-Thabarani).
Menjaga Keseimbangan
Islam mengajarkan keseimbangan hidup antara lain dengan cara tidur cukup, istirahat cukup, makan makanan bergizi, disampin ibadaha kepada Allah SWT, dan beramal saleh.Keteraturan tidur dan berjaga harus dipenuhi agar terjaga kesehatannya. Dari sisi lain, islam melarang membebani kemampuannya seperti begadang sepanjang malam dan membiarkan perut tak terisi makanan dan minuman. berhari-hari lamanya.
Resep sehat menyangkut kualitas dan kuantitas makanan yang ditentukan oleh Rasulullah SAW adalah tengah-tengah ykni tidak berlebihan, tidak terlalu kenyang. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, " orang mukmin itu makan untuk memenuhi satu perut, tetapi orang-orang kafir itu makan untuk memenuhi 7 (tujuh perut." (HR> Bukhari dan Muslim).
dari hadist ini dapat dipahami bahwa dari pola makan dapat diketahui tingkat keimanan seseorang.
Red. Ryant al fatih
April 08, 2016
ISLAM AGAMA RAHMAT SEMESTA ALAM
Sesungguhnya agama Islam merupakan anugerah Allah Ta'ala yang dibawa rasulullah saw bagi umatnya. Suatu anugerah yang berisi aturan hidup dalam segenap aspek kehidupan sebagaimana telah dipraktekkan pada zaman sahabat. Yakni Islam yang murni, yang jauh dari ktotoran syirik dan sinkretisme. Dengan kata lain islam meruoakan solusi permasalahan hidup sekaligus barometer kebenaran. Karena itulah agama yang diterima disisi Allah ta'ala hanyalah Islam. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah Ta'ala hanyalah Islam" (QS. Ali Imran [3] : 9). Namun demikian, banyak diantara kaum muslim kurang menyadari hal tersebut. betapa banyak nilai-nilai Islam yang seolah lenyap dari dada-dada kaum muslimin. Yang kita jumpai hanya sedikit kaum muslim yagn istiqomah.
Penerapan agama Islam seara kaffah akan melahirkan ketentraman hidup di dunia dan akhirat. Islam memberikan kemaslsahatan hidup manusia. Hal tersebut disebabkan karena Islam merupakan wahyu paripurna dari sang pencipta. Dengan kata lain Islam bukanlah rekayasa atau ciptaan manusia. Allah ta'aala berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kusempurnakan untukmu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam sebagai agamamu."(QS.Al Maidah [5]:3).
Karena Allah ta'aala telah menyempurnakan agama islam, maka kita tidak memerlukan agama lain. kita tidak memerlukan ajaran lain selain Muhammad SAW. Maka tidak ada yang halal kecuali yang telah beliau halalkan, tidak ada yang haram melainkan telah beliau haramkan. Segala yang beliau sampaikan adalah kebenaran, tiada unsur dusta dan unsur penyimpangan. Allah ta'aala berfirman, "Telah sempurna kalimat Rabbmu, kebenaran dan keadilannya". (QS. Al-An'am [6] : 115)
Risalah Isalm yang diajrakan nabi Muhammad SAW telah sempurna dan memiliki beberapa keistimewaan:
Pertama: Berifat kekal sampai hari kiamat
Allah ta'aala berfiman, "Tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup (nabi-nabi)" (QS. Al Ahzab [33]:40)..imama Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: "Ayat ini merupakan nash yang tegas bahwa sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudah beliau. Apabila sesudah beliau saw tidak ada lagi seorang nabipun, maka apalagi untuk seorang Rasul, jelas lebih tidak ada lagi. Sebab kedudukan Rasul lebih khusus daripada kedudukan nabi. Setiap Rasul pasti nabi, tetatp tidak etiap nabi pasti rasul. (Tasir Ibnu katsir : III/650).
Nabi sa bersabda: "Sesungguhnya aku memiliki banyak nama, Aku adalah muhammad, Aku juga Ahmad, Akupun bernama Al- Mahi yang dengan namaku itu Allah menghapuskan kekafiran dari muka bumi. Aku juga bernama Al-Hasyir yang manusia celakakan dikumpulkam sesuai dengan jejak kakiku. Dan aku adalah Al-'Aqib (nabi paling akhir) yang tidak ada lagi nabi sesudahku." (HR. Bukhari). Selanjutnya Imam Ibnu katsir menegaskan: "Sesungguhnya Allah ta'aala telah memberitahukan dalam KitabNya, demikian juga Rasulullah saw dalam sunnahnya yang mutawatir, bahwasanya tidak ada lagi nabi sesudah saw.
Supaya orang-orang mengetahui bahwa barang siapa mengajku memiliki kedudukan sebagai nabi sesudah nabi saw, maka dia adalah pendusta, pembual, dajjal, sesat dan menyesatkan. Meskipun ketika ia dibakar api tidak mempan, atau bermain sulap, atau mendatangkan berbagai macam sihir, jimat-jimat dan kemampuan-kemampuan aneh lainnya.. Semuanya adalah mustahil (sebagai bukti kenabian) dan sesat bagi pandangan orang-orang yang mempunyai akal" (Tafsir Ibnu Katsir : III/652).
Kedua: bersifat umum meliputi semua jin dan manusia
Seluruh jin manusia di akhir zaman ini adalah termasuk ke dalam umat da'wah nabi saw. Hal ini disebabakan oleh karena semenjak diutusnya nabi saw sampai hari kiamat, seluruh jin manusia diperintahkan dan diajak masuk agama Islam. Allah ta'aala berfirman, "Katakanlah, wahai manusia aku adalah utusan Allah kepadamu semua" (QS. AL A'raf {7} : 158). Nabi saw bersabda: "Demi Allah yang jiwa Muhammad ada ditanganNya. Tidak seorangpun diantara umat ini yang mendengar tentang aku, baik yahudi ataupun Nasrani, kemudian ia meninggal dunia sedangkan ia dalam keadaan tidak kepada risalah yang aku bawa, kecuali ia pasti termasuk penghuni neraka" (HR. Muslim). Hadits tersebut menunjukkan bahwa semua manusia setelah diutudnya nabi saw masuk kedalam umat da'wah beliau.
Apabila seseorang tidak mau beriman kepada beliau dan kepada risalah yang beliau bawa, maka orang tersebut telah kafir. Allah ta'aala berfirman, "Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya), mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. mereka berkata, "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang diturunkan seduadah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi menuntun kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan )orang yang menyeru kepada Allah ini dan berimanlah kpadaNya, niscaya Allah akanmengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan dari azab yagn pedih, Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah ini, maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. merka itu dalam kesestan yang nyata." (QS. AL-Ahqaf [46] : 29-32).
Ketiga: Bersifat Sempurna
Allah Ta'aala berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kusempurnakan untukmu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam sebagai agamamu."(QS.Al Maidah [5]:3). Abu Dzar al-ghifari radliallahu 'anhu, berkata" rasulullah saw meningalkan kami, sedangkan tidak ada seekor burungpun yang terbang dengan kedua sayapnya kecuali kami (selalu0 ada ilmu dari Rasulullah saw". berkata Ibnu Hibban: "Maksud 'pada kami (selalu0 ada ilmu dari nabi", ialah (ilmu yang) mencakup semua perintha-perintah beliau, berita-berita beliau, perbuatan-perbuatan beliau dan hal-hal yang diperbolehkan beliau." Tidak ada islam setelah diutudnya nabi saw kecuali denganmengikuti beliau. Sebab agama Islam uang dibawa oleh nabi saw merupakan penentu dan barometer kebenaran bagi semua agama atau atau aturan-ayuran lain.
Red.By Ryant
April 08, 2016
Kerena Surga Berada Di Telapak Kakinya
Dunia barat sekarang baru menemulan nlai mulia Ibu, sedangkan umat Islam telah berabad-abad mempercayai kedudukannya yang mulia berdasarkakan ajaran Ilahi melalui Islam. Islam percaya pada nilai Ibu yang luar biasa, dan telah menarik perhatian manusia melalui ebrbagai ungkapan dan pernyataan. bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan, yakni surga, tergantung pada kerelaan Ibu. nabi Muhammad saw bersabda, "Surga terletak di bawah telapak kaki Ibu."
Dalam memuiakan kedudukan Ibu, Islam tidak membatasi diri pada nasehat, perintah dan anjuran lisan. Tetapi islam uga memandang perintah dan larangan Ibu sebagai suatu kewajiban untuk dilaksanakan dalam hal-hal tertentu. Misalnya, dalam perkara yang disunnahkan Allah, tetapi berlawanan dengan larangan Ibu, maka anak-anak dinasihati untuk menaati larangan Ibu mereka.
Apabila seorang anak ingin berpuasa sunnah, atau melakukan perjalanan yang disunnahkan, tetapi Ibunya melarangnya, maka wajiblah bagi si anak untuk menaati Ibunya. Apabila anak itu melawan kegendak Ibunya, maka bukan saja ia tidak memperoleh pahala karena amalannya itu, melainkan ia justru memperoleh dosa dikarenakan penolakannya untuk menaati Ibunya.
Perkara lain dimana perintha ibu dihormati sebanding dengan perintah Allah ialah apabila perintah Allah berlawanan dengan larangan Ibu, denga syarat bahwa perbuatan itu tidak termasuk dalam perintah yang wajib seperti shallat fardhu atau puasa ramadhan. Misalnya dalam masalah jihad, orang yang mampu berperang harus ikut serta dalam pertempuran. tetapi apabila seorang muda memenuhi semua persyaratan untuk pergi jihad, kecuali bahwa Ibunya tidak mengizinkannya pergi (dengan syarat bahwa kebasenannya tidak membahayakan umat Islam), maka ia boleh tidak ikut dalam peperangan semata-mata karena larangan Ibunya.
islam memandang penghormatan kepada orang tua dan pelaksanaan hak-hak mereka sebagai kewajiban manusia tervbesar setelah perintah Illahi. Al-Quran mengatakan dalam hubungan ini, "Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada keua orang tuamu." (QS 31:14). Perlu diperhatikan bahwa disini Allah Ta'ala segera setelah menyebut hak-hakNya sendiri, menyebutkan hek kedua orang tua.
"Jika orang tuamu menyebabklan perasaan tidak senang pada dirimu, maka jnganlah engkau (membalas dengan) membuat mereka tak senang. Jika mereka memukulmu, engkau tak boleh (membalas dengan) menyakiti mereka. bahkan engkau mesti mendoakan mereka, dan tidak melemparkan apapun selain pandangan cinta dan kasih sayang kepada mereka. Suaramu tidak boleh lebih keras dari mereka dan engkau tidak boleh berjalan mendahului mereka."
April 08, 2016
Meraih Kemuliaan sebagai Manusia
"Dan carilah (pahala) negeri akherat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagaimana di dunia..."
Manusia diciptakan oleh Allah swt sebagai makhluk yang mempunyai akal, hati dan raga. Allah swt menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling muia. sebagaimana firmnaNya dalam QS. At-Tiin (95): 4, "Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." oleh karena itu, atas karunia nikmat yang begitu besar tersebut kita harus bersyukur kepada ALlah swt. Syukur yang terwujud dalam tiga bentuk yaitu syukur hati, syukur lisan dan syukur perbuatan.
Kita memang diciptakan sebagai manusia dengan bentuk tubuh yang sempurna, akal yang dapat memuat jutaan memori, hawqa nafsu dan hati yang dapat merasakan susah dan senang, namun belum tentu hal tersebut membuat kita hidup sebagai manusia ataupun juga dibangkitkan di hari akhir nanti dalam bentuk manusia. Dalam kehidupan yang dijalani manusia dapat menjadi makhluk yang lebih mulia dari pada malaikat, namun dapat juga menjadilebihhina dari binatang. Semua tergantung kepada amal perbbuatan yang dilaksanakan.
Demi menjaga kemuliaan kita sebagai manusia hendaknya kita meningkatkan kualitas serta kuantitas Ibadah kita kepada Allah swt. Kita berusaha senantiasa mendekat kepada Allah swt, Dzat yang maha Mulia. hal tersebut Insya Alhha akan terwujud dengan senatiasa berpegang teguh terhadap 3 prinsip hidup sebagai seorang muslim, yaitu:
1. mengutamakan hati Nurani dan Akal Sehat
Setiap orang mempunyai dorongan untuk berbuat fasiq dan dorongan untuk vertaqwa. Dalam QS-As Syam {91} : 8-10. Allah swt berfirman, "maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung ornag yang mensucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya".
Dorongan-dorongan kefasikan adalah dorongan negatif dari syahwat, berupa dorongan untuk mengikuti dan memperturutkan hawa jafsunya. Memperturutkan hawa nafsu yang tiada habisnya akan membuatn manusia tidak beda dengan binatang.
Dengan menjadikan hati dan akal sebagai pengendali hawa nafsu, maka setiap keinginan dari hawa nafsu akan di pertimbangkan dan dirasakan terlebih dahilu oleh hati nurani dan akal sehat. Maka dari itu hati nurani dan akal sehat harus diutamakan untuk dapat mengendalikan hawa nafsu sehingga kemuliaan sebagai manuisa dapat terjaga.
Dalam kehidupan sederhana sebagai cintih, jika kita makan brelebihan menuruti semua keinginan hawa nafsu, bukan tidak mungkin kita justru akan kekenyangan, sakit dan sibuk buang air. belum lagi, jika di depan umum kita makan semua dari apa yang kita inginkan secara rakus, maka kerhomatan kita akan jatuh di mata umum. Atau mungkin bagi orang yang menderita penyakit hipertensi, alergi atau komplikasi, makan semaunya bukan nimat tapu justru kumat yang akan di dapat. Untuk itu marilah kita gunkan hati nurani dan akal sehat kita untuk mengendalikan dan mengatur hawa nafsu kita.
2. Mnegutamakan AKhirat Namun Tidak melupakan Dunia
Dalam surah Al- Qashas{28}:27 Allah swt berfirman "Dan carilah (pahal) negeri akherta dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlahk kamu lupakan bagaimana di dunia dam berbuat bailah sebagaimaana Allah telah berbuat baik kaepadamu dan janganlah kamu mebuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.". dari ayat tersebut kita diperintahlan untukmerancang tujuan jangka panjang dengan sebaik-baiknya. Tujuan jangka panjang tersebut adalah akhirat. Negeri akirat yang lebih baik dari negeri dunia.Negeri akhirat yanglebih kekal abadi. Kita diperintahkan untuk mencari tujuan akhirat namun jangan sampai melupakan dunia, karena di dunia ini kita ibarat orang yang dalam perjalanan kemudian mampir untuk mencari perbekalan dalam melanjutkan perjalanan. Namun, jangan kita utamakan dunia sebagai tjuan akhir, untuk kita kita harus berprinsip hiduo di dunia ini yang penting pahal melimpah dan juga bayarannya lebih (seng penting ganjarane bayarane turah)
Islam mengajarkan untuk mendapatkan hal tersebut yaitu dengan doa yang ada dalam surah Al-Baqarah {2} : 201 yang bebrbunyi "Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, "ya Tuhan kami, verilah kamikebaikan di dunia dan kebaikan di akhirta, dan lindungilah kami dari azab neraka"
3. Menempatkan Allah diatas segala-galanya
Sebagaimana kita baca dalam shalat kita sehari-hari yaitu surat Al Fatihah ayat ke 5. "hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu akumemohon pertolongan. Selain kita baca dalam setiap shalat, kita harus mengamalkan maksud dari ayat tersebut, jangan sampai menempatkan sesuatu selain Allah, doatas Allah. Kita akan menerima balasan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Termasuk dalam cinta, karena sebagaimana Allah akan membalas cinta kepada yang mencintainya, untuk itu kita harus mencintaiNya 100%. Allah berfirman, "Dan Dia akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik" (QS. An Najm:31)
namun sebaliknya jika kita menempatkan cinta kepada manusia atau yang lain diatas cinta kita kepada Allah maka harus siap kecewa. karena kita sebagai manusia tidak tahu apa isi dari hati seseorang. orang bijak bilang dalamnya sanudera bisa diukur namun dalam hati seseorang siapa tahu.
Allah swt berfirman "Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargaku, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tenpat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. AT-Taubah[{9}:24
BY.Ryant al fatih


Monday, 11 January 2016
January 11, 2016
Allah Ta’ala Hanya Menginginkan Darimu 3 Hal 1⃣. Perkataan yang baik 2⃣. Amalan yang baik 3⃣. Aqidah yang benar Allah Ta’ala berfirman, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An Nahl: 97) Di dalam ayat tsb Allah bersumpah akan memberikan kehidupan yang baik bagi laki-laki dan perempuan yang: 1. Beramal shalih (ucapan dan perbuatan yang baik ) 2. Dalam keadaan beriman (aqidah yang benar) Maka barangsiapa yang memiliki 3 hal diatas Allah jamin bagi nya kehidupan baik serta akan mendapatkan keridhoanNya. Dan harusnya tidak akan didapati orang yang memiliki ketiga sifat diatas lalu bermaksiat kepada Allah ! (Disarikan dari Muhadharah Syaikh Muhammad Al Muhktar Asy Syinqithy “Allahu Yuridu’anka Tsalatsata Asy ya’.) Berbagillah manfaat dengan Klik share semoga Allah memberi kehidupan yang indah untuk anda. Share ya. (Mozaik islam)
Wednesday, 6 January 2016
January 06, 2016
Doa Diterima Amalan رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ Rabbanaa taqabbal minnaa, innaka antas sami'ul 'alimu Ya Tuhan kami terimalah (amalan) daripada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui QS. Al-Baqarah 127 Penjelasan: Doa ini menjelaskan bahwa segala amalan yang dikerjakan oleh Nabi Ibrahim dipersembahkan semata-mata hanya untuk Allah. Nabi Ibrahim menyebutkan dua sifat Allah, yaitu Maha Mendengar bahwa Allah mendengar doa hamba-Nya dalam arti diterima oleh Allah dan Maha Mengetahui segala alasan dari doa yang dipanjatkan.
Sunday, 3 January 2016
January 03, 2016
Gus dur dan Santri
Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga.
Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula.
Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip.
Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala.
Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus?
Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus?
Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30.
Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi.
Di surga itu masa persiapan, penggemblengan.
Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis?
Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya.
Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak.
Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya.
Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan.
Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu.
Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan.
Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan.
Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun.
Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37).
Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi.
Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus.
Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang.
Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka.
Orang lain disepelekan.
Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus.
Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama.
Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran.
Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga.
Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula.
Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip.
Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala.
Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus?
Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus?
Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30.
Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi.
Di surga itu masa persiapan, penggemblengan.
Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis?
Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya.
Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak.
Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya.
Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan.
Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu.
Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan.
Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan.
Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun.
Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37).
Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi.
Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus.
Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang.
Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka.
Orang lain disepelekan.
Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus.
Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama.
Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran.
Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."
Tuesday, 15 December 2015
December 15, 2015
KATA KATA MUTIARA
Hidup punya banyak pilihan dengan hal-hal baik dan buruknya masing-masing. Tentukan pilihanmu, lakukan yang terbaik.
Dalam hidup, jangan pernah biarkan pendapat seseorang tentangmu mengubah dirimu menjadi seseorang yang kamu tahu bukan dirimu.
Mencintai seseorang bukan hanya dengan mengucapkannya setiap hari, tapi juga dengan menunjukkannya dalam segala hal sepenuh hati.
Kadang, meski marah atas apa yang telah dilakukan dia yang kamu cinta, kamu tetap tak mampu berhenti mencintainya.
Sahabat sejati dapat menunjukkanmu bahwa hidup tak seburuk yang kamu pikirkan dan masalahmu tak sebesar yang kamu takutkan.
Hati-hatilah dengan hati. Jangan berikan pada seseorang yang tak bisa menghargai, karena ketika diberi, dia takkan sepenuhnya kembali.
Sahabat yang baik tidak akan meminta sahabatnya menjadi orang lain. Tetapi sahabat yang baik akan menerima sahabatnya apa adanya.
Kadang ketika lelah terus terluka, kamu memilih tuk menjauh dari segalanya, hanya karena kamu ingin melihat siapa yang akan menghampirimu.
Jangan menolak perubahan hanya karena takut kehilangan yang telah dimilki,karena dengannya kita merendahkan nilai yang bisa kita capai melalui perubahan itu.
Jika kita menetapkan ingin hidup ini seperti apa, lalu kerja keras untuk mencapai tujuan, kita tidak akan pernah kalah ,bahkan akan menang.
Jangan mengingat kebaikan yang pernah kamu lakukan, tapi ingatlah kebaikan yang orang lain lakukan kepadamu.
Ketika kamu merasa sendiri dan tak ada yang peduli, ingatlah bahwa ada seseorang di luar sana yang begitu ingin memiliki hidup yang kamu jalani.
Cinta mungkin akan membuatmu terluka, tapi ia membuatmu semakin dewasa. Jadilah pribadi yang selalu memaafkan, terutama hatimu.
Kebencian hanya merugikan diri sendiri, tersenyumlah ketika disakiti. Hati tanpa benci membentuk jiwa yang tegar dan damai.
Keyakinan merupakan suatu pengetahuan di dalam hati, jauh tak terjangkau oleh bukti.
Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara. Semenit, sejam, sehari, atau setahun. Namun jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya.
Jadilah diri anda sendiri. Siapa lagi yang bisa melakukannya lebih baik ketimbang diri anda sendiri?
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
Sesuatu yang sangat sulit tuk melupakan seseorang yang telah memberimu begitu banyak hal tuk diingat.
Kau tak kan bisa kehilangan apa yang tak pernah kau miliki. Kau tak kan bisa memaksa bertahan pada seseorang jika dia ingin pergi.
Dalam cinta, jangan buang air matamu menangisi seseorang yang bahkan tak pantas tuk melihatmu tersenyum.
Ketika seseorang cukup kuat tuk buatmu terjatuh, kamu harus tunjukkan padanya bahwa kamu juga cukup kuat tuk bangkit berdiri.
Pertolongan Tuhan mungkin tidak datang terlalu cepat, tidak juga terlambat. Pertolongan Tuhan selalu datang di saat yang tepat
Jangan kamu lupa jangan kamu lengah atas berkat rahmat Allah maha kuasa.
Seseorang yang menemanimu dalam kesusahan jauh lebih berharga daripada seratus orang yang menemanimu dalam kesenangan.
Hidup itu seperti drama, dan kamu bisa memilih untuk menjadi penontonnya atau pemainnya.
Jangan bersedih ketika melakukan salah. Karena kesalahan kita banyak belajar, karena kesalahan kita menjadi pintar.
Cintai apapun yang akan kamu lakukan hari ini, kerena tidak ada yang menarik jika kamu tidak tertarik.
Kita semua pasti pernah salah, namun ada perbedaan besar antara salah yang buatmu dewasa dan salah yang sengaja dilakukan.
Jangan tangisi kesalahan, tapi tersenyumlah karena setiap kesalahan mengajarkanmu agar berupaya lebih baik lagi.
Kegagalan adalah cara Tuhan mengajarkan kamu tentang pantang menyerah, kesabaran, kerja keras dan percaya diri.
Bahagia bukan berarti segalanya sempurna. Bahagia adalah ketika kamu memutuskan tuk melihat segala sesuatu secara sempurna.
Jangan pernah mengeluh atas kekuranganmu, karena kekurangan mengingatkanmu untuk terus mencari kekuatan yang ada dalam dirimu.
December 15, 2015
HAKIKAT TAQWA
Hakikat takwa
Syaikh Abdul Qodir al Jailani menjelaskan bahwa ada orang jika dikatakan kepada mereka “bertakwalah kepada Allah” maka dia marah dan jika disampaikan kebenaran kepadanya maka dia mendengar namun menganggapnya remeh. Jika diingkarkan kepadanya maka dia ingkar dan marah padamu.
Berikut penjelasan Syaikh Abdul Qodir al Jailani yang termuat pada kitab al Fath ar Rabbani wa al Fayadl ar Rahmani yang diterbitkan oleh Mitrapress dengan judul “Mahkota Sufi” diterjemahkan oleh Muhammad Nuh Lc.
***** awal kutipan *****
Bukankah Umar bin al Khathab ra pernah berkata, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka ia akan selalu menghilangkan kemarahannya“. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam hadits qudsi, “Aku menyintai kalian ketika mentaatiKu, dan ketika kalian bermaksiat padaKu , maka Aku murka kepada kalian”
Bukankah Umar bin al Khathab ra pernah berkata, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka ia akan selalu menghilangkan kemarahannya“. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam hadits qudsi, “Aku menyintai kalian ketika mentaatiKu, dan ketika kalian bermaksiat padaKu , maka Aku murka kepada kalian”
Cintailah Allah dengan sebenar-benarnya. Cintailah dengan segenap hatimu. Sebab engkau membutuhkanNya. Ketahuilah Allah menyintaimu bukan sebagai kebutuhanNya. Dia tidak membutuhkan dirimu. Dia mencintaimu untuk kepentinganmu bukan demi kepentinganNya. Dia menyukai kepatuhanmu sebagai manfaat yang kembali kepadamu juga. Sambutlah Dia yang mencintaimu dengan senang hati kepadaNya.
Wahai murid-muridku! apa yang kukatakan ini tidak akan bisa kauterima jika dirimu tidak menggunakan akal sehat. Maka gunakanlah akal sehatmu untuk menerima nashatku.
Gunakanlah akalmu wahai orang yang berpikir. Berpuaslah menerima apa adanya, sehingga Tuhan akan memberimu kedudukan yang banyak dari bagian akhiratmu. Pungutlah kekayaan duniawi dengan sikap zuhud. Jangan engkau memungutnya dengan hawa nafsu dan syahwat.
Kaum shalih adalah orang-orang berakal. Ketahuilah kaum shalih adalah orang-orang yang berakal. Mereka mengatakan, “Kami tidak akan memakan makanan di jalan atau di rumah, melainkan di sisiNya“. Jika orang-orang zuhud makan di surga dan orang-orang arif makan disisiNya, sementara mereka masih berada di dunia, maka kalangan pecinta Allah, tidak makan di dunia juga tidak di akhirat. Sesungguhnya makanan mereka adalah kedekatan dengan Tuhan Azza wa Jalla.
Kaum shalih memilihi sifat qanaah yang sempurna. Mereka memiliki tingkat penyerahan diri kepada Tuhan secara utuh. Mereka tidak memiliki kehendak, juga pilihan, melainkan hanya sekedar menjalani perintah Tuhannya.
Engkau jangan berdalih apapun sebab dirimu tidak memiliki dalih yang tegas. Halal dan haram sudah jelas. Betapa kurang ajarnya dirimu kepada Allah. Betapa sedikit ketakutanmu kepadaNya dan betapa besar sikap meremehkan atas kenikmatan memandangNya, padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Takutlah pada Allah Azza wa Jalla seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkat tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia sedang melihatmu”
***** akhir kutipan *****
***** akhir kutipan *****
Al Habib Luthfi ketika ditanya apa pandangan-pandangan beliau tentang tasawuf. Beliau menjelaskan sebagaimana yang termuat padahttp://www.habiblutfiyahya.net/index.php?Itemid=18&catid=34:berita&id=133:pengamalan-tasawuf-ala-al-habib-luthfi&lang=ar&option=com_content&view=article
***** awal kutipan *****
Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.
Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.
Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.
Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang aqil baligh, kita harus bener-bener menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jawa anak-anak kita.
***** akhir kutipan *****
***** akhir kutipan *****
Begitupula ketika Al Habib Luthfi ditanyakan apa yang sebenarnya menarik dari Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia tasawuf, beliau menjawab
***** awal kutipan *****
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karena setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karena setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah.
Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karat tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu.
***** akhir kutipan *****
***** akhir kutipan *****
Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in , Al Hasan al-Basri ra (Madinah,21H/642M – Basrah,110 H/728M) , berkata: ”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka”.
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”
Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)
Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus menjalankan tasawuf agar tidak menjadi manusia yang rusak (berakhlak tidak baik).
Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“
Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]
Sebagaimana wawancara dengan Dr. Sri Mulyati, MA (Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) yang selengkapnya dapat ditemukan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/24/komunitas-spiritual-kota/, beliau mengatakan bahwa untuk dapat melihat Allah dengan hati sebagaimana kaum sufi, tahapan pertama yang harus dilewati adalah Takhalli, mengosongkan diri dari segala yang tidak baik, baru kemudian sampai pada apa yang disebut Tahalli, harus benar-benar mengisi kebaikan, berikutnya adalah Tajalli, benar-benar mengetahui rahasia Tuhan. Dan ini adalah bentuk manifestasi dari rahasia-rahasia yang diperlihatkan kepada hamba-Nya. Boleh jadi mereka sudah Takhalli tapi sudah ditunjukkan oleh Allah kepada yang ia kehendaki.
Muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh
Jadi jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka dia tidak akan membiarkan sampah bukan pada tempatnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka dia bekerja dengan tekun, profesional, menghargai waktu dalam menepati janji, tidak bermalas-malasan, tidak bermewah-mewahan atau tidak boros dan tidak melakukan hal buruk lainnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka jika dia seorang pelajar atau mahasiswa maka dia tidak akan melakukan perkelahian atau tawuran antar siswa atau antar mahasiswa karena mereka memandang Allah dengan hatinya atau karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka jika dia seorang pejabat maka dia akan melaksanakan jabatannya dengan amanah, jujur, adil, profesional dan tidak akan melakukan korupsi karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kesimpulannya adalah bahwa kehidupan Islami terbentuk karena kaum muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya sehingga jika bersikap dan melakukan perbuatan maka akan bersikap dan melakukan perbuatan yang dicintaiNya karena kaum muslim memandang Allah dengan hatinya atau karena kaum muslim selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Seandainya bukan karena dosa yang menutup kalbu Bani Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad dari Abi Hurairah)
Tidak semua manusia dapat melihat Allah dengan hatinya.
Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.
Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj [22]:46 )
“Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepada Allah dengan hati yang lurus.” (QS. Asy-Syu’araa: 88)
Dua dimensi jiwa manusia senantiasa saling menyaingi, mempengaruhi dan berperang.
Kemungkinan jiwa positif manusia menguasai dirinya selalu terbuka, seperti yang dialami Habil. Dan jiwa negatifpun tak tertutup kemungkinan untuk mengontrol diri manusia, seperti yang terjadi pada Qobil.
Tataplah sosok seorang Mush’ab bin Umair ra yang hidup di masa Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam. Ia putera seorang konglomerat Makkah. Namanya menjadi buah bibir masyarakat, terutama kaum mudanya. Sebelum masuk Islam ia dikenal dalam lingkaran pergaulan jet set. Namun, suatu hari mereka tak lagi melihat sosoknya. Mereka kaget ketika mendengarnya sudah menjadi pribadi lain.
Benar, ia sudah bersentuhan dengan dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan hidup dalam kemanisan iman dan kedamaian risalahnya. Sehingga cobaan beratpun ia terima dengan senyuman dan kesabaran. Kehidupan glamour ia lepaskan. Bahkan dialah yang terpilih sebagai juru dakwah kepada penduduk Madinah.
Disisi lain , tengoklah pribadi Musailamah Al-Khadzdzab. Setelah mengikuti kafilah dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, jiwa negatifnya masih menonjol, ketamakan akan kedudukan dan kehormatan membawanya pada pengakuan diri sebagai nabi palsu. Akhirnya ia mati terbunuh dalam kondisi tak beriman di tangan Wahsyi dalam suatu peperangan.
Manusia tentu saja memiliki harapan agar jiwa positifnya bisa menguasai dan membimbing dirinya. Sehingga ia bisa berjalan pada garis-garis yang benar dan haq. Akan tetapi seringkali harapan ini tak kunjung tercapai, bahkan bisa jadi justru kondisi sebaliknya yang muncul. Ia terperosok ke dalam kubangan kebatilan.
Disinilah betapa besar peranan lingkungan yang mengelilingi diri manusia baik keluarga kawan, tetangga, guru kerabat kerja, bacaan, penglihatan, pendengaran, makanan, minuman, ataupun lainnya. Semua itu memberikan andil dan pengaruh dalam mewarnai jiwa manusia.
Islam , sebagai Din yang haq, memberikan tuntunan ke pada manusia agar ia menggunakan potensi ikhtiarnya untuk memilih dan menciptakan lingkungan yang positif sebagai salah satu upaya pengarahan, pemeliharaan , tazkiyah atau pembersihan jiwa dan sebagai tindakan preventif dari hal-hal yang bisa mengotori jiwanya.
Disamping itu, diperlukan pendalaman terhadap tuntunan dan ajaran Islam serta peningkatan pengalamnnya. Evaluasi diri dan introspeksi harian terhadap perjalanan hidupnya, tak kalah pentingnya dalam tazkiyah jiwa. Manakala jalan ini ditempuh dan jiwanya menjadi bersih dan suci, maka ia termasuk orang yang beruntung dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebaliknya , apabila jiwanya terkotori oleh berbagai polusi haram dan kebatilan, maka ia termasuk orang yang merugi menurut kriteria Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mesucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya”(QS. Asy Syams [91] : 7-10).
Dua suasana jiwa yang berbeda itu akan tampak refleksinya masing-masing perilaku keseharian manusia, baik dalam hibungannya dengan Allah, lingkungan maupun dirinya.
Jiwa yang suci akan memancarkan perilaku yang suci pula, mencintai Alah dan Rasul-Nya dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Sedangkan jiwa yang kotor akan melahirkan kemungkaran dan kerusakan, adalah benar bahwa Allah tidak melihat penampilan lahir seseorang, tetapi yang dilihat adalah hatinya, sebagaimana disebutkan dalam satu hadits. Tetapi ini dimaksudkan sebagai penekanan akan pentingnya peranan niat bagi sebuah amal, bukan untuk menafikan amal lahiriah.
Sebuah amal ibadah akan diterima Allah manakala ada kesejajaran antara perilau lahiriah dan batiniah, disamping sesuai dengan tuntunan Din. Lebih dari itu, secara lahiriah, manusia bisa saja tampak beribadah kepada Allah. Dengan khusyu’ ia melakukan ruku’ dan sujud kepada-Nya. Namun jiwanya belum tunduk ruku dan sujud kepada Allah Yang Maha Besar dan Perkasa , kepada tuntunan dan ajaran-Nya.
Tazkiyah jiwa merupakan suatu pekerjaan yang sungguh berat dan tidak gampang. Ia memerlukan kesungguhan, ketabahan dan kontinuitas. Sebagaimana amal baik lainnya, tazkiyah adalah bagai membangun sebuah gedung, disana banyak hal yang harus dikerahkan dan dikorbakan. Sedangkan pengotoran jiwa, seperti amal buruk lainnya, adalah semisal merobohkan bangunan, ia lebih mudah dan gampang serta tak banyak menguras tenaga.
“Jalan menuju surga di rintangi dengan berbagai kesulitan. Sedangkan jalan menuju neraka ditaburi dengan rangsangan hawa nafsu”, demikian sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
Tazkiyah jiwa ini menjadi lebih berat lagi ketika manusia hidup dalam era informatika dan globalisasi dalam kemaksiatan dan dosa. Dimana kreasi manusia begitu canggih dan signifikan. Mansusia seakan tak berdaya mengikuti irama dan gelombangnya.
Sebenarnya Islam memiliki sikap yang akrab dan tidak menolak sains dan tekhnologi, sementara sains dan tekhnologi tersebut tidak bertentangan dan merusak lima hal prinsip (ad – dkaruriyat al khams); Din , jiwa manusia, harta, generasi dan kehormatan. Sehingga tidak ada paradoksal antara jiwa positif dan bersih serta nilai-nilai kebaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman.
Pengalaman tuntunan dan akhlak Islami, meski tanpa pemerkosaan dalam penafsirannya, tidak pernah bertentangan dengan alam sekitar. Lantaran keduanya lahir dari satu sumber, Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta alam semesta dan segala isinya.
Salah faham terhadap konsep ini akan mengakibatkan kerancuan pada langgam kehidupan manusia.maka yang tampak adalah bukit hingar bingar dan menonjolnya sarana pengotoran jiwa manusia. Akhirnya, nilai nilai positif dan kebenaran seringkali tampak transparan dan terdengar sayup-sayup. Benarlah apa yang menjadi prediksi junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
“Orang yang sabar dalam berpegang dengan Din-nya semisal orang yang memegang bara api”.
Mereka acapkali mengalami banyak kesulitan dalam mengamalkan Din-nya. Sehingga mereka merasa asing dalam keramaian. Namun demikian, tidaklah berarti mereka boleh bersikap pesimis dalam hidup. Bahkan sebaliknya, mereka harus merasa optimis. Sebab dalam situasi seperti ini, merekalah sebenarnya orang yang meraih kemenangan dalam pandangan Islam.
“Islam mulai datang dalam keterasingan dan akan kembali dalam keterasingan pula sebagaimana mulanya. Maka berbahagialah orang – orang yang terasing”. (Al Hadist).
Dalam fenomena seperti ini, tak tahu entah dimana posisi kita. Yang jelas, manusia senantiasa dianjurkan oleh Allah agar meningkatkan kualitas dan posisi dirinya di hadapan Nya. Dan Allah tak pernah menolak setiap hamba yang benar-benar ingin kembali kepada jalan-Nya.
Bahkan lebih dari itu, manakala hamba Nya datang dengan berjalan, maka Ia akan menjemputnya dengan berlari. Sungguh Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Kita berharap, semoga kita termasuk orang-orang yang mau mendengar panggilan-Nya yang memiliki jiwa muthmainnah, jiwa yang tenang. Sehingga kita akhirnya berhak meraih panggilan kasih sayang –Nya.Firman Allah ta’ala yang artinya
“Hai jiwa yang tenang . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.Al Fajr [89] : 27-30)
Orang yang bertakwa adalah orang yang kembali kepada Rabb-nya, meraih maqom disisiNya, menyaksikanNya dengan hati (ain bashiroh) berkumpul dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Firman Allah ta’ala yang artinya,
”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)
Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali Allah) adalah shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan padahttps://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala“ Seorang dari sahabatnya berkata, “siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka“. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.” Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya“. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Yunus [10]:62)
Menurut al-Tirmidzi ada dua jalur yang dapat ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama disebut thariq ahl al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah); sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah).
Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat wali di hadapan Allah semata-mata karena karunia-Nya yang di berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat wali berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah.
Derajat kewalian itu mengalami pasang surut; namun, setelah mengalami pengumulan yang hebat, seorang wali berada di hadapan-Nya untuk kemudian masuk dalam genggaman Tuhan. Pada situasi ini, seorang wali melihat kumiz min al-hikmah (perbendaharaan hikmah) dan tersingkaplah baginya ilmu Allah, sehingga naiklah horizon pengetahuan wali tersebut dari pengenalan tentang ‘uyub al-nafs (rupa-rupa cacat dirinya) kepada pengetahuan tentang al-shifat wa al-asma (sifat-sifat dan nama-nama Allah), bahkan tersingkaplah baginya hakikat ilmu Allah.
Hubungan yang tercipta antara Allah dengan al-awliya (para wali) menurut al-Tirmidzi adalah hubungan al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan). Hubungan istimewa ini diperoleh karena hubungan seorang wali telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah, sehingga ia menjadi tanggungjawab-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadirannya, hudhur ma’ahu wa bihi (merasakan kehadiran-Nya oleh diri-Nya).
Bertitik tolak pada al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (parawali); al-Tirmidzi sampai pada kesimpulannya bahwa al-awliya dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah, yakni memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.
Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.
Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni
‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi),
‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),
‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).
‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),
‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).
Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang ulama sufi abad ke-4 hijriyah dalam Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta berkata
***** awal kutipan *****
“Kaum Sufi, Allah benar-benar telah menjadikan kaum ini sebagai kelompok para waliyullah terpilih; mengutamakan mereka atas semua hambaNya setelah para Rasul dan Nabi-Nya. Semoga Allah memberi shalawat dan salam kepada mereka.
“Kaum Sufi, Allah benar-benar telah menjadikan kaum ini sebagai kelompok para waliyullah terpilih; mengutamakan mereka atas semua hambaNya setelah para Rasul dan Nabi-Nya. Semoga Allah memberi shalawat dan salam kepada mereka.
Allah menjadikan hati mereka tambang berbagai rahasiaNya; dan mengkhususkan mereka lebih dari umatNya yang lain dengan pantulan cahayaNya. Mereka bagai hujan bagi mahlukNya yang selalu berputar dan berkeliling bersama Al-Haqq dengan kehakikatanNya ditengah “keumuman” tingkah laku manusia.
Allah menjernihkan mereka dari segala kekotoran sifat manusia; melembutkan hati dan rohani mereka pada pencapaian tempat-tempat (maqam) musyahadat (persaksian ruhani pada kebesaran dan kegaiban Allah) dengan “penampakan Al-Haqq dari segala hakikat keesaanNya; menempatkan mereka untuk “tetap tegak” dengan sikap penyembahan dan mempersaksikan pada mereka saluran-saluran hukum ketuhanan.
Karena itu mereka mampu menunaikan segala bentuk kewajiban yang dibebankan kepada mereka; mampu menghakikati segala yang dianugerahkanNya, berupa perubahan-perubahan dan berbagai putaran hidup, kemudian kembali kepada Allah dengan kebenaran iftiqar (butuh dan menggantung pada kehadiran dan peran Allah) dan hati yang remuk redam karena Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Luhur dan Tinggi; bebas berbuat apa yang dikehendakiNya; bebas memilih siapa saja yang dikehendakiNya; tidak ada yang memberi ketentuan hukum kepada Nya; tidak ada kebenaran bagi makhluk yang mengharuskan pada Allah; sebab pahalaNya adalah awal keutamaan dan siksaanNya adalah hukum keadilanNya; perintahNya adalah ketentuan yang mutlak dari Allah.”
***** akhir kutipan *****
***** akhir kutipan *****
Berikut catatan tentang sufi seperti yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athaillah.
*****awal kutipan *****
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. yang didiami para ahli shuffah. Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. yang didiami para ahli shuffah. Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.
Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.
Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi) terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.
Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.
Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
***** akhir kutipan ******
***** akhir kutipan ******
Wassalam
BY .Ryant



